Cerita ini sebenarnya terjadi hampir sebuan yang lalu. Tapi karena malam ini aku mampir ke tempat ini...ya sudahlah aku iseng aja bikin tulisan ini.
Sebenarnya ini bukan kunjunganku yang pertama kali ke restoran fast food ini. Kunjunganku waktu itu juga sebenarnya tidak disengaja. Hanya dikarenakan hujan deras yang menghadang di perjalanan pulang kerja, memaksaku untuk berteduh. Daripada laptop dan pe-er laporan kerjaan basah terkena air hujan...ya sambil sekalian saja makan malam saja di restoran itu. Ngga apa-apalah "dosa" sedikit sama perut karena ngasih kelebihan kalori di malam hari (^_^).
Malam itu pengunjung restoran agak sedikit sepi...mungkin karena hari ini hari kerja dan hujan di luar cukup deras. Aku duduk di tempat favoritku...meja di pojok restoran dekat jendela yang menghadap ke jalan. Sambil menunggu pesananku datang, ada satu hal yang baru kusadari dalam kunjunganku ini. Ternyata salah seorang pelayan, lebih tepatnya seorang cleaning service, di restoran ini memiliki kekurangan. Dia tuna rungu alias tidak bisa berbicara.
Sebenarnya bukan pertama kali aku melihat pelayan itu, karena rasanya sih aku udah pernah lihat dia beberapa waktu sebelumnya. Namun aku baru benar-benar menyadarinya malam itu...ketika kulihat dia diajak berbicara dengan seorang teman kerjanya dan reaksinya hanya menunjuk-nunjuk dan tangannya bergerak seperti menunjukkan bahasa isyarat. Lama kuperhatikan dia berinteraksi dengan karyawan lainnya hingga akhirnya aku baru bisa benar-benar menyimpulkan bahwa dia benar-benar seorang tuna rungu.
Jujur aku salut dengan keberanian restoran tersebut untuk menerima seseorang yang memiliki kekurangan tersebut sebagai karyawannya, meskipun dia hanya bertugas sebagai seorang cleaning service.
Namun aku lebih salut lagi kepada karyawan tersebut. Kekurangan yang dia miliki tidak menjadi hambatan baginya untuk tetap dapat bekerja dan mencari nafkah bagi dirinya sendiri...dan mungkin juga buat keluarganya.
Tak jarang kekurangan yang dimiliki oleh seseorang membuat dirinya memiliki rasa rendah diri untuk dapat bekerja mencari nafkah atau melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri ataupun bagi lingkungannya. Tak hanya kekurangan yang bersifat fisik, tetapi bisa juga bersifat kemampuan. Bahkan tak jarang kekurangan tersebut akhirnya berbuah pada kemalasan yang pada ujungnya berharap belas kasihan orang lain.
Apa yang diperlihatkan karyawan tersebut menunjukkan kepada kita bahwa selama ada kemauan, pastilah akan tersedia jalan untuk meraihnya. Kekurangan yang dimilikinya tidak menghambat kemauan dirinya untuk bekerja. Kekurangan yang dimilikinya tidak menyebabkan dia menunggu belas kasihan orang lain. Baginya, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Allah telah mengatur rejeki bagi setiap makhluknya dan tinggal bagaimana makhluk tersebut berusaha mencarinya. Setiap manusia diberikan kelebihan untuk dapat bertahan dalam kehidupan ini. Namun terkadang kita hanya melihat sisi kekurangan dalam diri kita tanpa menyadari bahwa kita memiliki suatu kelebihan yang dapat digunakan dalam hidup ini untuk sesuatu yang bermanfaat.
Terkadang kita sudah menyerah terlebih dahulu dengan keadaan yang ada pada diri kita. Namun pernahkan kita mengingat bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kau melainkan kaum itu sendiri yang mengubahnya ?
Janganlah menyerah pada nasib.
Janganlah pasrah terhadap keadaan.
Jangan menunggu keadaan menjadi lebih baik.
Tetapi...lakukanlah sesuatu agar hidupmu menjadi lebih baik.